Lewati ke bab

Pelayan Kesayangan CEO AroganBab 2: Kepergok Majikan

Bab 2 berisi sekitar 6.825 karakter dan merupakan salah satu dari 3 bab pembuka yang tercatat di situs ini.

Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa.

"Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar.

Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher.

Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi karena kakinya gemetar.

"Maaf, Tuan! Maaf sekali!" suaranya bergetar. Matanya sudah berkaca-kaca, tapi ia berusaha keras menahan air mata. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, tak berani melihat wajah Javendra.

Javendra berdiri tanpa berkata apa-apa lagi. Ia melirik Sasa sekilas, lalu berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya. Langkahnya tegas. Pintu ruangan tertutup dengan suara klik yang terdengar berat di telinga Sasa.

Sekarang hanya tinggal Sasa sendirian di koridor itu.

Tubuhnya gemetar hebat. Lututnya lemas sampai ia harus bersandar ke dinding. Air mata yang sudah ditahan sejak tadi akhirnya jatuh juga. Ia menutup mulut dengan kedua tangan agar suara tangisnya tidak terdengar.

Kenapa aku ceroboh sekali? batinnya. Baru pertama hari, sudah begini. Pasti Tuan Javen marah besar.

Sasa semakin ketakutan. Ia ingat rumor yang pernah didengarnya tentang Javendra Prakasa. Pria arogan, dingin, dan sangat tidak suka dengan orang yang tidak kompeten. Apalagi insiden memalukan seperti ini.

Apa aku akan dipecat?

Apa nanti dituntut karena dianggap kurang ajar?

Aku bahkan belum sempat kirim uang ke ibu...

Air matanya semakin deras. Sasa menangis sendirian di sudut koridor, bahunya naik-turun. Ia merasa sangat tidak profesional. Gadis kampung yang nekat melamar kerja di rumah mewah ini malah langsung membuat kesalahan fatal di hari pertama.

Javendra tak kunjung keluar dari ruangannya. Semakin lama Sasa menunggu, semakin besar ketakutannya.

**

Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja terbuka lagi. Javendra keluar dengan langkah biasa, seolah tidak ada kejadian apa pun tadi. Wajahnya datar seperti biasa.

Sasa buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan. Ia masih menunduk dalam, tak berani menatap ke depan.

"Kamu sudah paham apa yang harus kamu lakukan?" tanya Javendra santai, seolah kejadian di koridor tadi tidak pernah terjadi.

Sasa pelan-pelan mendongak. Pipinya merah padam, hidungnya juga merah, dan matanya masih basah. Javendra berhenti sebentar melihatnya.

"Kamu kenapa? Kok malah merah semua begitu?" Ia mengerutkan alis sedikit. "Kamu habis nangis?"

Pertanyaan itu justru membuat Sasa semakin tidak kuasa menahan tangis. Air matanya turun lagi meski ia sudah berusaha keras menahannya. Rasanya sangat tidak sopan menangis di depan majikan, tapi ia tak bisa berhenti.

"Maaf, Tuan..." suaranya gemetar dan serak. Ia menghapus air mata dengan cepat, tapi semakin banyak yang keluar. "Maafkan saya soal tadi. Saya tidak sengaja. Saya ... saya benar-benar minta maaf. Tolong jangan pecat saya, Tuan Javen. Saya akan kerja lebih baik. Saya janji."

Sasa menunduk lagi, bahunya bergetar menahan isak. Tangan kirinya masih memegang ujung seragamnya erat-erat.

"Saya butuh pekerjaan ini ... Saya nggak tahu harus ke mana lagi kalau dipecat."

Suara Sasa semakin kecil di ujung kalimat. Ia menunggu vonis dari Javendra dengan tubuh yang tegang dan hati yang ketakutan.

Javendra hanya berdiri di depannya, diam memperhatikan gadis yang sedang berusaha keras menahan tangis itu.

Javendra menggaruk sebelah alisnya, lalu menarik napas panjang sambil menatap Sasa yang masih menahan tangis. Air mata gadis itu terus mengalir meski sudah dihapus berkali-kali.

"Saya tidak mau kamu menangis begini," katanya dengan suara datar tapi tegas. "Seolah saya habis melakukan hal-hal yang merugikan kamu."

Sasa kaget mendengarnya. Ia mengangguk pelan sambil menelan ludah.

"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya merasa bersalah..."

Javendra menahan napas sejenak, seolah sedang menekan sesuatu dalam dirinya. Saat itu Sasa baru sadar kalau dua kancing seragamnya di bagian atas sudah lepas entah sejak kapan.

Bagian dadanya yang penuh jadi agak terlihat. Ia langsung panik dan menutupinya dengan kedua tangan, wajahnya semakin merah.

Javendra mengalihkan pandangan.

"Saya rasa kamu butuh baju ganti segera. Saya akan minta kepala pelayan antar sekarang."

Sasa sangat malu. Kepalanya tertunduk semakin dalam.

"Maaf, Tuan... sekali lagi maaf."

Javendra menghela napas pelan.

"Jangan terlalu sering minta maaf. Lakukan saja pekerjaan dengan benar."

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada lebih rendah, "Dan mulai sekarang, lebih hati-hati."

Sasa hanya bisa mengangguk cepat. Air matanya masih menggenang, tapi ia berusaha keras untuk berhenti menangis. Jantungnya masih berdegup kencang, campur aduk antara malu, takut, dan lega karena belum langsung dipecat.

Javendra berbalik dan kembali ke ruang kerjanya, meninggalkan Sasa yang berdiri sendirian dengan seragam yang masih acak-acakan dan hati yang belum tenang.

**

Tak lama kemudian, kepala pelayan datang ke ruang kerja Javendra sambil membawa seragam baru. Saat itu Sasa masih berdiri di samping meja kerja Tuan Javen sambil menutupi dadanya dengan kedua tangan. Wajahnya merah padam karena malu.

Kepala pelayan menyerahkan seragam itu dengan sopan. Sasa menerimanya dengan satu tangan sambil tangan satunya masih berusaha menutup dada.

Javendra yang duduk di kursi kerjanya melirik sekilas, lalu berkata datar, “Saya akan keluar sebentar. Ganti saja di sini."

“Ba … baik, Tuan,” jawab Sasa pelan.

Begitu Javendra dan kepala pelayan keluar, Sasa langsung mengunci pintu. Ia menghela napas lega sekaligus gugup. Seragam baru ini memang satu tingkat lebih besar dari yang sebelumnya. Ia berharap kali ini lebih nyaman.

Tapi saat melihat ukuran dadanya di cermin, Sasa kembali merasa miris. Kenapa harus sebesar ini sih? batinnya.

Sebagai wanita dengan dada besar, ia selalu sulit menyesuaikan pakaian. Kadang baju longgar kelihatan jelek, baju pas malah terlalu ketat dan mencolok. Ia takut bentuk tubuhnya justru akan mengundang masalah di rumah ini.

Kalau aku buat masalah lagi, pasti langsung dipecat, pikirnya cemas.

Tapi di sisi lain, ia sedikit lega. Tuan Javen memang ketus dan dingin, tapi sepertinya pria itu tidak langsung menganggapnya pengganggu hanya karena tubuhnya.

Sasa mulai membuka sisa seragam lama. Satu per satu kancing dilepas hingga baju itu jatuh ke lantai. Kini ia hanya memakai bra hitam yang sudah sangat ketat. Bra itu nyaris tak mampu menutupi dadanya yang penuh, hampir meluap di setiap gerakan.

Saat ia sedang mengambil seragam baru untuk dikenakan, tiba-tiba saja terdengar suara klik. Sasa pun tercengang.

Pintu ruangan terbuka.

Javendra masuk kembali tanpa mengetuk, masih membawa beberapa berkas di tangan.

Sasa membeku di tempat. Tubuhnya hampir telanjang dari pinggang ke atas. Hanya bra tipis yang nyaris tak sanggup menahan isi dadanya.

“Aaak! Tuan Javen!" suara Sasa tersendat ketakutan.

Javendra langsung berhenti di ambang pintu. Matanya jatuh tepat ke dada Sasa yang terpapar jelas.

Bab 4 tersimpan di aplikasi resmi

Katalog ini memuat bab 1–3 dari Pelayan Kesayangan CEO Arogan. Sisa buku dibaca di aplikasi resmi.

Kode Anda R24285

  1. Pasang aplikasi resmi di ponsel Anda.
  2. Buka aplikasi dan masukkan kode untuk menuju buku ini.
Lanjutkan di aplikasi

Pilih bahasa katalog

6 bahasa, satu katalog gabungan. Setiap bahasa memiliki tanda rak dan bab pembuka tersendiri.