Lewati ke bab

Pelayan Kesayangan CEO AroganBab 3: Apa Kamu Bisa Memijat?

Bab 3 berisi sekitar 7.811 karakter dan merupakan bab terakhir dari 3 bab pembuka yang tercatat di situs ini; bab 4 berlanjut di aplikasi resmi.

Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini?

Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.

Sasa semakin merasa bersalah. Ia cepat merapikan seragam lalu membuka pintu dengan kepala menunduk.

"Maaf, Tuan… tadi saya—"

"Saya yang salah," potong Javendra datar. "Saya malah asal masuk. Tadi lupa mau ambil pena yang tertinggal."

Sasa meneguk ludah, lalu mengangguk cepat.

"Iya, Tuan. Saya juga salah karena kelamaan. Maaf, Tuan."

Javendra tidak menjawab lagi. Ia masuk ke ruangan, duduk di kursi kerjanya, lalu melepas dua kancing atas kemejanya. Sasa berdiri kaku di tempat.

"Cek AC-nya," perintah Javendra. "Kenapa saya merasa gerah sekali."

Sasa langsung bergerak memeriksa thermostat di dinding. Ia memastikan beberapa kali sebelum menjawab.

"Suhu sudah normal, Tuan. Seharusnya tidak panas."

Javendra memijat keningnya sebentar, lalu menatap Sasa yang masih berdiri di depannya.

"Bajunya sudah tidak kekecilan lagi?"

Sasa mengangguk pelan. "Untungnya sudah pas, Tuan. Terima kasih."

Javendra mengalihkan pandangan ke arah jendela. Sasa merasa cemas. Ia takut sekali kalau kehadirannya malah membuat Tuan Javen tidak nyaman.

"Ada tugas yang harus saya kerjakan sekarang, Tuan?" tanya Sasa hati-hati.

Javendra mengambil selembar kertas dari laci meja dan memberikannya kepada Sasa.

"Itu daftar tugasmu dari pagi sampai sore. Kadang malam saya juga butuh bantuan. Kamu kan menginap di sini. Kamarmu sudah tahu di mana, kan?"

Sasa mengangguk. "Sudah, Tuan. Tadi pagi sudah diberitahu dan barang saya juga sudah ditaruh di sana."

"Bagus," kata Javendra singkat. "Kalau begitu kamu bisa langsung mulai kerjakan tugasmu."

"Baik, Tuan Javen."

Sasa membungkuk hormat, lalu mundur keluar dari ruangan dengan kertas tugas di tangan. Meski lega karena tidak diomeli, hatinya masih gelisah.

Hari ini baru mulai, tapi sudah terlalu banyak hal memalukan. Batin Sasa.

Ia menarik napas dalam-dalam dan berusaha fokus pada daftar tugas. Tapi bayangan kejadian tadi terus muncul di kepalanya, membuat pipinya kembali panas setiap kali teringat.

**

Sasa berdiri di koridor dan langsung memeriksa kertas tugas yang diberikan Javendra. Matanya melebar sedikit.

“Wah, banyak juga ya…” gumamnya pelan.

Daftar itu cukup panjang, tapi ia langsung mengangguk mantap. "Harus dikerjakan semuanya dengan benar. Jangan sampai ada yang salah lagi hari ini."

Ia mulai dari tugas pertama.

“Pagi hari. Siapkan kopi hitam tanpa gula untuk Tuan Javen di meja kerja.”

Sasa langsung bergegas ke dapur. Ia menyeduh kopi dengan hati-hati, mengukur takarannya persis seperti yang tertulis. Setelah kopi siap, ia membawanya ke ruang kerja Javendra dan meletakkannya di meja dengan pelan.

“Kopi hitamnya sudah siap, Tuan,” katanya pelan sebelum keluar.

"Tugas berikutnya, membersihkan kamar tidur utama."

Sasa masuk ke kamar Javendra yang luas dan rapi. Ia mengganti seprai, merapikan selimut, membersihkan debu di meja rias dan nakas, lalu menyapu dan mengepel lantai dengan teliti.

“Kasur sudah rapi … debu juga sudah bersih,” bisiknya sambil mengecek sekali lagi. Ia tidak mau ada yang terlewat.

Setelah itu ia ke ruang ganti pakaian, merapikan beberapa jas dan kemeja yang sedikit berantakan, lalu memasukkan pakaian kotor ke keranjang laundry.

“Pakaian kotor sudah saya pisahkan, nanti sore saya cuci,” katanya dalam hati.

Menjelang siang, ia kembali ke dapur untuk menyiapkan air minum dingin dan buah potong sesuai daftar.

“Air putih dingin satu botol … buah potong apel dan anggur,” ucap Sasa mengingat-ingat. Ia memotong buah dengan rapi dan menyusunnya di piring kecil.

Sesekali ia melirik jam. Pekerjaan memang banyak, tapi ia berusaha menikmati saja. Lebih baik sibuk daripada diam dan mikirin hal memalukan tadi, ia membatin.

Sore harinya, Sasa menyelesaikan tugas terakhir di daftar. "Lalu, membersihkan perpustakaan kecil di lantai dua dan menyusun buku-buku yang agak berantakan."

Ia mengelap rak buku satu per satu, menyusun buku sesuai ukuran, lalu membersihkan sofa baca di sudut ruangan.

“Perpustakaan sudah bersih,” gumamnya sambil mengusap keringat di dahi. Punggungnya agak pegal, tapi ia merasa puas.

Saat matahari mulai condong ke barat, Sasa kembali ke ruang kerja Javendra untuk melapor. Ia mengetuk pintu pelan.

“Permisi, Tuan Javen. Semua tugas hari ini sudah saya kerjakan sesuai daftar.”

Ia berdiri di depan meja dengan tangan di depan perut, menunggu instruksi selanjutnya sambil berharap tidak ada kesalahan.

Javendra mengangkat wajah dari laptopnya dan menatap Sasa sebentar.

Javendra menutup laptopnya pelan, lalu bersandar ke kursi sambil menatap Sasa.

"Semua sudah selesai?" tanyanya.

"Iya, Tuan. Sudah saya kerjakan satu per satu sesuai daftar," jawab Sasa sopan.

Javendra diam sebentar, seolah menilai. Ia lalu berdiri dan berjalan mendekat ke jendela, melihat ke luar.

"Bagus. Untuk hari pertama, lumayan."

Sasa merasa sedikit lega mendengar pujian itu, meski suaranya tetap datar. Tapi ia tidak berani tersenyum. Ia hanya mengangguk kecil.

"Ada tugas tambahan malam ini, Tuan?"

Javendra berbalik menghadapnya. "Malam ini saya ada meeting online sampai jam sembilan. Siapkan makan malam ringan di jam delapan. Setelah itu kamu boleh istirahat. Tapi kalau saya panggil, langsung datang."

"Baik, Tuan Javen. Saya akan siapkan makan malamnya."

Sasa hendak berbalik, tapi Javendra memanggilnya lagi.

"Sasmaya."

Sasa berhenti dan membalikkan badan. "Ya, Tuan?"

Javendra menatapnya beberapa detik sebelum bicara, "Besok pagi bangun lebih awal. Saya biasanya mulai kerja jam enam. Kopi harus sudah ada di meja jam setengah enam."

"Baik, Tuan. Saya catat."

Setelah Javendra mengangguk, Sasa keluar dari ruangan dengan langkah ringan. Begitu pintu tertutup, ia menghela napas panjang dan bersandar sebentar di dinding koridor.

Ia langsung menuju dapur untuk mempersiapkan bahan makan malam. Sambil memotong sayur, pikirannya melayang. Pekerjaan memang banyak, tapi ia merasa sanggup. Yang membuatnya gelisah justru adalah Tuan Javen sendiri. Pria itu dingin, tapi tatapannya kadang membuat Sasa merasa… aneh.

Sore berganti malam. Sasa menyelesaikan makan malam tepat waktu, salad ayam panggang dan sup jamur sesuai selera majikannya. Ia meletakkannya di meja makan utama, lalu menunggu instruksi selanjutnya.

Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam ketika Javendra akhirnya keluar dari ruang kerjanya. Ia terlihat sedikit lelah.

Sasa langsung menyapa, "Makan malam sudah siap, Tuan."

Javendra hanya mengangguk dan duduk di meja. Sasa berdiri di samping, siap melayani kalau ada yang dibutuhkan.

Saat Javendra mulai makan, Sasa diam-diam mengamati pria itu. Dingin, arogan, tapi punya aura yang sulit diabaikan.

Ia buru-buru menggelengkan kepala.

**

Setelah Javendra selesai makan malam, Sasa segera membereskan meja makan dan memastikan semuanya kembali rapi.

Waktu sudah hampir pukul sepuluh malam. Tubuhnya terasa lelah, tetapi ia cukup puas karena berhasil menyelesaikan semua tugas di hari pertamanya.

"Sekarang aku boleh istirahat," gumamnya pelan sambil menghela napas ringan.

Ia berjalan menyusuri koridor menuju kamar pelayan di lantai bawah. Langkahnya terasa lebih ringan karena ia sudah membayangkan mandi air hangat lalu beristirahat.

Namun saat hampir sampai di ujung koridor, suara pintu terbuka membuatnya berhenti.

Pintu kamar Javendra terbuka.

"Sasmaya."

Sasa langsung menegang. Jantungnya berdegup cepat. Apa aku melakukan kesalahan, pikirnya panik.

Ia segera berbalik dan berjalan mendekat dengan kepala sedikit menunduk.

"Ada apa, Tuan?" tanyanya pelan dengan suara sedikit gemetar.

Javendra berdiri di ambang pintu. Kemejanya terlihat agak kusut dengan dua kancing atas terbuka. Ia menatap Sasa beberapa saat sebelum berbicara dengan suara rendah.

"Apa kamu bisa memijat?"

Akhir bab pembuka

Lanjutkan dengan Bab 4 di aplikasi resmi

Anda telah membaca semua 3 bab yang dimuat katalog ini untuk Pelayan Kesayangan CEO Arogan. Buku berlanjut di aplikasi resmi.

Kode pembaca R24285

  1. Pasang aplikasi resmi dari toko di ponsel Anda.
  2. Masukkan kode R24285 saat aplikasi memintanya, lalu buka buku ini.
Buka Bab 4 di aplikasi

Kembali ke catatan katalog · Rak saya

Bab 4 tersimpan di aplikasi resmi

Katalog ini memuat bab 1–3 dari Pelayan Kesayangan CEO Arogan. Sisa buku dibaca di aplikasi resmi.

Kode Anda R24285

  1. Pasang aplikasi resmi di ponsel Anda.
  2. Buka aplikasi dan masukkan kode untuk menuju buku ini.
Lanjutkan di aplikasi

Pilih bahasa katalog

6 bahasa, satu katalog gabungan. Setiap bahasa memiliki tanda rak dan bab pembuka tersendiri.