Lewati ke bab

TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASABab 2: Tepat Di Titik Sensitifnya

Bab 2 berisi sekitar 6.718 karakter dan merupakan salah satu dari 3 bab pembuka yang tercatat di situs ini.

"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!"

"Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya.

Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantakan. Mungkin tadi kedua majikannya baru selesai mencoba lagi untuk bercinta tetapi tidak ada hasilnya.

Kedua mata Nyonya Mila juga terlihat sembab. Bejo sedikit tak tega tetapi tugas yang diberikan oleh Tuan Saka sudah ia tanda tangani dan Bejo tak lagi bisa mundur.

"Aku akan beri kamu kesempatan, tapi kamu harus nurut dengan apa yang aku perintahkan!"

"Mas!"

"Diam, Mila!"

Wanita itu pun memejamkan kedua mata terlihat begitu sangat gemas dengan Tuan Saka. Bejo terus saja memperhatikan Nyonya Mila. Dalam hati kasihan, cantik tapi harus mendapatkan penyakit seperti itu.

"Aku sudah membayar mahal Bejo untuk membantu menyembuhkanmu. Aku sadar, aku juga mengalah, mungkin tidak denganku kamu bisa ditaklukkan. Berulang kali aku sudah mencoba tapi kamu tidak bisa membuka kaki untukku."

Bejo melirik Tuan Saka kemudian beralih pada Nyonya Mila yang terlihat semakin penasaran akan apa penjelasan selanjutnya. Terlihat jelas Nyonya Mila pun nampak malu dengannya.

Bejo menarik nafas dalam menguasai diri kalau-kalau melihat Nyonya Mila ngamuk setelah tau rencana suami beliau. Memang sangat keterlaluan dan gila. Haish... !

"Kali ini aku hanya minta kamu pasrah, biar Bejo yang melakukan tugasnya. Aku berikan kesempatan untukmu bercinta dengannya sampai kamu benar-benar bisa sembuh. Mungkin saja fantasimu akan liar jika tidak denganku dan kamu bisa rileks dengan orang baru."

"Mas... Kamu..."

"Jangan katakan aku tega padamu, Sayang! Justru ini caraku untuk tetap mempertahankanmu. Kalau kamu tidak mau, maka kita bercerai dan aku akan mengembalikan kamu pada keluargamu yang taunya hanya uang dan uang itu. Bagaimana? Akh tidak! Ini bukan penawaran dan kamu harus setuju."

"Mas apa tidak ada cara lain selain ini? Aku..."

Mila melirik Bejo yang kemudian menunduk kala kedapatan memperhatikan wanita itu. Bejo berusaha untuk tetap diam tanpa memberikan ekspresi apapun.

"Aku baru kenal dengannya, Mas. Kenapa kamu tega sekali membiarkan tubuhku dilihat oleh laki-laki lain? Aku ini istri kamu loh, Mas! Dengan cara yang seperti ini sama saja kamu sudah sangat menyakiti aku, Mas!"

"Sakit mana dengan Mamah yang menganggap kamu mandul karena belum bisa memberikan cucu? Ingat! Aku ini anak satu-satunya. Sakit mana dengan anggapan orang yang buruk padamu? Katanya kamu mencintaiku. Kenapa tidak mau berkorban untukku, hhmm?"

Dengan sedikit perdebatan ini, Bejo paham apa yang terjadi pada kedua majikannya. Bejo sedikit demi sedikit mulai tau jika masalah ini menyebabkan pandangan buruk dari keluarga Tuan Saka dan ada masalah juga di tengah keluarga Nyonya Mila.

"Keluarga yang rumit! Tapi tugasku tak kalah demit. Dengan Tuan Saka yang terlihat gagah perkasa saja Nyonya kaku, apalagi aku yang notabene brondong. Apa mungkin punya Tuan Saka sebesar singkong, maka dari itu Nyonya jadi takut menerima milik suaminya? Akh tapi milikku ...."

Otak Bejo malah sibuk sendiri memikirkan itu semua seraya menunggu perdebatan di antara kedua majikannya usai.

"Mas tapi aku nggak bisa."

"Harus bisa! Kurang apa aku setahun ini sabar denganmu? Mulai malam ini, kamu harus melakukan pendekatan dengannya. Aku tidak memaksa untuk kalian bisa langsung bercinta tetapi setidaknya setiap harinya harus ada perkembangan."

Tuan Saka melihat ke arah Bejo dan juga sang istri bergantian. Gerak gerik pria itu terlihat tanpa beban dan itu ditangkap langsung dari indera penglihatan Bejo.

"Anggap saja kalian sedang pacaran atau pasangan selingkuh. Mungkin dengan pemikiran itu, gairahmu akan membara dan bisa bercinta dengannya."

Bejo menelan kasar salivanya mendengar apa yang Tuan Saka katakan. Nyonya Mila yang diberikan arahan, Bejo yang kebagian membayangkan betapa indahnya wanita itu di bawah kungkungannya.

Namun kalau melihat wajah Nyonya Mila sekarang, Bejo sedikit iba. Bejo meringis dan kembali menundukkan kepala.

"Kasihan, tapi lebih kasihan lagi kalau sampai dicerai. Akh kalau aku jadi Nyonya ya lebih memilih bercerai saja, tapi bunuh diri namanya kalau sampai dikembalikan pada keluarga yang hanya tau uang dan uang. Maju kena, mundur juga kena."

Berisik sekali otak Bejo. Dia masih senantiasa berdiri di sana sampai dimana Tuan Saka memanggilnya.

"Bejo! Mulai besok malam kamu bebas tidur di kamar ini dan mungkin saya akan tidur di kamar tamu. Kebetulan juga besok saya ada perjalanan bisnis keluar kota. Jadi selama saya tidak ada di rumah. Tugasmu harus dilaksanakan dengan baik dan tentu saja harus ada hasil. Paham!"

"Paham, Tuan."

Bejo mengangguk bersedia dan Nyonya Mila menatap jengah kesediaannya akan tugas yang diberikan itu. Bejo pun melirik Nyonya Mila yang kemudian membuang muka enggan melihatnya.

"Gimana caranya kalau melihatku saja, dia muak? Memangnya aku jelek banget apa? Apa kurang wangi? Kayaknya besok harus ganti parfum yang bisa membuat Nyonya klepek-klepek jadinya."

Keesokan paginya, Bejo yang sedang membersihkan mobil pun melihat Tuan Saka berangkat dengan Nyonya Mila yang mengantar sampai teras.

Bejo menghentikan pergerakan dan interaksi mereka. Kalau dari jauh seperti sudah akur, tapi kedua mata Nyonya Mila terlihat bengkak pagi ini.

"Hati-hati ya, Mas! Kalau sudah sampai jangan lupa kabari aku!"

"Kamu juga tidak perlu sampai malam-malam di toko. Ingat! Jangan kelelahan yang akhirnya membuatmu semakin susah untuk sembuh. Terima, Bejo! Anggap saja itu aku. Syukur-syukur setelah kepulanganku nanti, kamu sudah bisa melayaniku."

"I...Iya, Mas. Akan aku usahakan."

Bejo segera membuang muka kala Nyonya Mila menoleh ke arahnya. Dia meringis setelah ketahuan memperhatikan mereka.

"Bejo, antar saya ke bandara!" perintah Tuan Saka dan Bejo segera beranjak dari sana.

"Baik, Tuan. Silahkan masuk!" kata Bejo kemudian membukakan pintu mobil.

"Mas!"

Namun panggilan dari Nyonya Mila membuat Bejo kembali menoleh ke arah wanita itu. Nyonya Mila melangkah mendekati Tuan Saka yang berdiri di hadapannya kemudian mengecup bibir beliau.

Bejo pun kemudian membuang muka setelah melihat adegan itu. Bejo sedikit mundur memberikan ruang agar mereka bisa saling bermesraan terlebih dahulu.

Setelah Nyonya Mila mundur dan kembali ke teras rumah, Bejo bergerak untuk segera menutup pintu mobil. Namun sebelum pintu benar-benar tertutup, otaknya kembali dibuat kotor dengan apa yang Tuan Saka katakan.

"Lihat, Bejo! Istri saya sebenarnya sangat agresif sekali. Hanya saja penyakit itu sangat berengsek sudah membuatnya sulit saya nikmati."

"Iya, Tuan."

"Taklukan dia! Dia paling suka disentuh tepat di titik sensitifnya. Kamu tau bagian itu bukan?"

Bab 4 tersimpan di aplikasi resmi

Katalog ini memuat bab 1–3 dari TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA. Sisa buku dibaca di aplikasi resmi.

Kode Anda S72014

  1. Pasang aplikasi resmi di ponsel Anda.
  2. Buka aplikasi dan masukkan kode untuk menuju buku ini.
Lanjutkan di aplikasi

Pilih bahasa katalog

6 bahasa, satu katalog gabungan. Setiap bahasa memiliki tanda rak dan bab pembuka tersendiri.